Mengapa DiSC adalah “Hukum Fisika” Bagi Arus Listrik di Otak Anda

oleh Heru Wiryanto

Satu hal yang membuat kita harus angkat topi pada kegeniusan Marston adalah ketajaman visinya yang melampaui zaman.

Di era 1920-an, ketika teknologi pemindaian otak modern seperti MRI atau EEG masih jauh dari angan-angan, Marston sudah dengan berani membedah perilaku manusia melalui kacamata neurobiologi. Ia sudah berbicara tentang arus listrik di otak dan mekanisme transfer energi antar sinapsis melalui konsep “Psychon”, sebuah lompatan intuitif yang kini terbukti secara sains melalui penemuan neurotransmiter dan aktivitas elektrik neuronal.

Banyak orang menggunakan alat DiSC hari ini tanpa menyadari bahwa akarnya bukanlah sekadar kuesioner psikologi populer, melainkan sebuah upaya ambisi untuk memetakan “biologi emosi”.

Marston sebenarnya sedang mencoba merumuskan hukum fisika bagi jiwa manusia; ia percaya bahwa kepribadian kita hanyalah manifestasi dari bagaimana sirkuit saraf kita mengelola tegangan listrik internal saat berinteraksi dengan dunia luar.

Selama ini kita mungkin menganggap emosi hanyalah perasaan abstrak yang melayang di awan pikiran. Namun, bagi William Moulton Marston, emosi adalah fenomena fisik yang sangat nyata—ia adalah listrik yang mengalir dalam tubuh.

Dalam karyanya yang monumental, Emotions of Normal People, Marston mengajak kita untuk berhenti melihat kepribadian sebagai label statis dan mulai melihatnya sebagai aliran Energi Psychonic.

Bayangkan diri Anda sebagai sebuah pembangkit listrik kecil. Marston berhipotesis bahwa setiap pikiran kita berubah menjadi tindakan melalui psychons, yaitu unit energi yang mengalir deras melalui celah-celah saraf atau sinapsis.

Ketika energi ini mengalir menuju sistem saraf motorik, ia menciptakan dorongan fisik untuk bereaksi: entah itu untuk melawan, membujuk, atau merangkul lingkungan. Inilah mengapa seseorang dengan profil Dominance (D) tampak memiliki energi yang meledak-ledak; secara biopsikologis, mereka sedang mengalami tegangan listrik saraf yang tinggi saat berhadapan dengan hambatan.

Di jantung pemikiran Marston terletak sebuah konsep yang ia sebut sebagai Kesadaran Motorik.

Emosi kita, menurutnya, lahir dari kalkulasi bawah sadar mengenai perbandingan kekuatan diri kita (Motor Self) melawan kekuatan lingkungan (Motor Object).

Jika kita merasa lebih kuat dari situasi yang ada, energi kita akan mengalir aktif sebagai dominasi atau persuasi. Sebaliknya, jika lingkungan terasa lebih perkasa, energi kita berubah menjadi bentuk pasif atau responsif. Semua ini berpadu dengan persepsi kita: apakah dunia ini adalah medan perang yang penuh permusuhan (Antagonistik) atau taman yang penuh kawan (Aliansi)?

Namun, apa yang membuat seseorang disebut “Normal” oleh Marston?

Jawabannya adalah Harmoni. Manusia yang sehat secara mental adalah mereka yang mampu menjaga keseimbangan arus listrik sarafnya.

Marston melihat emosi negatif—seperti ketakutan yang melumpuhkan atau kemarahan yang membabi buta—bukan sebagai sifat buruk, melainkan sebagai “kemacetan” pada arus psychonic.

Secara radikal, ia mengaitkan kesehatan ini dengan konsep cinta dan kekuasaan. Bagi Marston, emosi Inducement (I) dan Submission (S) adalah fondasi biologis dari kasih sayang yang menjaga sirkuit saraf kita tetap dingin dan berfungsi dengan baik.

Memahami sisi biologis ini memberikan perspektif baru yang mendalam bagi kehidupan modern kita, terutama soal fenomena burnout.

Kelelahan mental sering kali bukan karena kita bekerja terlalu keras, melainkan karena kita memaksa energi saraf kita mengalir ke jalur yang salah.

Seseorang yang secara alami memiliki arus “S” namun dipaksa terus-menerus memercikkan api “D” akan mengalami kerusakan sirkuit internal karena ia melawan arus alaminya sendiri.

Pada akhirnya, ajaran Marston mengingatkan kita bahwa tubuh tidak pernah bisa berbohong. Karena emosi adalah getaran fisik pada tekanan darah dan sistem saraf, kejujuran sejati selalu terpancar dari sirkuit tubuh kita.

Kita adalah pengatur tegangan bagi diri sendiri; karakter kita bukanlah apa yang kita katakan, melainkan bagaimana kita mengelola kabel-kabel energi tersebut saat badai kehidupan datang menerjang.

Sumber Referensi : Marston, W. M. (2013). Emotions of normal people. Routledge. (Karya asli diterbitkan 1928).

Similar Posts